Jumat, 09 November 2012

Selamat Tahun Baru Hijriyah


Kamis, 14 Juni 2012

Isra Mi'raj



Pada akhir bulan Rajab, ummat muslim selalu diingatkan akan sebuah kejadian maha penting yang pernah terjadi dalam sirah Nabi besar Muhammad shalallahu wa alaihi wassalam yaitu peristiwa dijalankannya Rosulallah dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra), yang lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (Mi'raj). Peristiwa agung tersebut terjadi sebelum Rosulallah shalallahu wa alaihi wassalam mendapat perintah dari Allahurrahmanirrahiim untuk Hijrah.

Peristiwa tersebut dengan jelas dikisahkan oleh Allah Jabbaarulmutakabbir dalam Al-Qur'anul Kariim dalam Surah Al-Isra ayat pertama:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
"Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Lalu kemudian apakah hikmah yang bisa kita petik dan rasakan terkait peristiwa suci tersebut?

Rabu, 06 Juni 2012

Karbala, Bumi Penaklukan Darah atas Pedang

Karbala. Itulah nama hamparan sahara yang menjadi panggung drama nyata yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. Panggung sebuah tragedi yang mengiris sukma dan hati nurani insan dan abdi-abdi sejati Ilahi manakala darah daging suci Rasul itu menjadi mangsa keserakahan, pengkhianatan, kezaliman, dan kebiadaban penguasa serta kepicikan sebagian umat sepeninggal Rasul.

Karbala. Gurun duka dan nestapa. Gurun tempat matahari dari angkasa malakut mengguyurkan terik cahaya kesaksian atas histeria dan ratap tangis putera-puteri Azzahra saat tercekik dahaga di tengah seringai ribuan pasukan angkara murka, saat mereka terlunta-lunta di tengah ingar bingar ribuan manusia-manusia srigala yang bermandikan air liur dan mabok harta dan kekuasaan, saat mereka mengerang di tengah lingkaran pagar tombak dan betis kuda-kuda perang kaum durjana, saat mereka terkepung gumpalan debu dan semburan api musuh yang melahap tenda-tenda mereka, saat mereka terbantai di tengah gemerincing pedang dan gemertak rahang keangkuhan penguasa Dinasti Umayyah.

Karbala. Samudera pasir yang menikari bagian sungai Eufrat di Irak. Padang tandus tempat kstaria sejati Islam, Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as, mempersembahkan kesegaran, ketegaran, dan keperkasaan darah altruisme untuk menerjang prahara kemunafikan dan meruntuhkan benteng kebejatan Bani Umayyah terhadap Islam dan umatnya. Tanah tempat Al-Husain putera Azzahra mengibarkan bendera perang terhadap setiap kekuatan angkara murka di muka bumi yang saat itu diperagakan dengan amat sempurna dan mencekam oleh Yazid bin Muawiyah, Ubaidillah bin Ziyad, Syimir bin Dzil Jaushan, dan aktor-aktor antagonis lainnya. Karbala, tanah tempat Al-Husain menyambut Asyura tuk melepas bintang berekor tanda datangnya keranda kehancuran para Fir'aunis.

Karbala. Pada akhirnya adalah gurun sejarah abadi penaklukan darah syuhada atas panah, tombak, dan pedang.

"Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang." 
(Al Imam-Husain bin Ali bin Abi Thalib as) 

Jumat, 27 Januari 2012

Kematian, Akhir atau Awal Kehidupan

Kami sering berbicara dengan sahabat dan kerabat tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu persatu. Sifat kematian yang tidak pernah kenal permisi membuat kita harus selalu waspada. Waspada dalam menjaga perasaan orang lain, khususnya orang tua. Kami membayangkan betapa banyak kesalahan kami kepada orang tua, kerabat dan sahabat, dan ketika kematian mengambil mereka dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk meminta maaf?

Tangis air mata tentu saja akan menghiasi setiap wajah yang berduka. Lebih dari sekedar karena kita kehilangan orang tersayang. Pelipur duka dari tangisan ini adalah kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi râji’un (Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali). Pengertian kembali ke sisi Allah dan keluar dari kehidupan dunia untuk memasuki kehidupan lain inilah yang disebut dengan maut (kematian).

Kematian di sini bukan yang umum dipahami dan kita lihat sehari-hari sebagai hilangnya fungsi indera, punahnya kemampuan beraktivitas, dan lenyapnya kehidupan fisik. Definisi kematian bidang kedokteran berbeda dengan defisini kematian dalam Al Quran. Bukankah orang yang syahid di jalan Allah tidak mati dan justru mendapat rezeki?

Di dalam Al Quran surah Qâf ayat 19, kata maut diikuti dengan frasa bil-haqqAllamah Thabathabai mengatakan bahwa dari ayat inilah kita tahu bahwa kematian bukanlah ketiadaan, kesirnaan ataulah kehilangan, tapi kembali ke sisi Allah, atau dalam bahasa Quran yang lain kembali ke kampung halaman. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak diciptakan untuk kebinasaan, tapi kekekalan. Hanya saja kalian berpindah dari satu alam ke alam lain.”

Karenanya, air mata yang kita keluarkan idealnya secara hakiki bukan karena kematian orang yang kita cintai. Tangisan itu lebih tepat jika kita tujukan kepada diri kita sendiri, yang masih terperangkap di dunia ini. Imam Husain a.s. saat berada di medan perang tidak menampakkan kesedihan ketika kondisi semakin kritis. Para pasukan lawan justru melihat wajah cucu Nabi tsb semakin berseri. “Dunia adalah penjara orang-orang mukmin dan surga bagi orang-orang kafir,” ucapnya.

Dan firman Allah dalam Al Qur'an ( Al Baqarah : 216 ): “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah SWT mengetahui sedangkan kamu tidak.”

Rabu, 07 Desember 2011

Dunia Peringati Asyura

Jutaan Muslim seluruh dunia memperingati hari berkabung atas pembantaian cucu Rasulallah SAW, Imam Husein di Padang Karbala.

Asyura adalah hari ke 10 bulan Muharram, di mana Imam Husein dan para sahabat setianya gugur syahid dalam membela kebenaran dan menegakkan agama Allah SWT pada tahun 61 H.

Di Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya, banyak warga mendatangi masjid dan tempat-tempat peringatan digelar untuk memberi penghormatan kepada Imam Husein dalam perjuangannya membela keadilan di Karbala, Irak, sekitar 1.300 tahun lalu.

Peringatan Asyura melambangkan sikap abadi dan tak tergoyahkan kebenaran melawan kebatilan dan perjuangan melawan tirani kemanusiaan.

Pada hari Asyura, banyak masyarakat muslim berkumpul untuk mengenang kembali perjuangan putra Fatimah Az-Zahrah itu. Peringatan peristiwa memilukan itu akan diawali dengan pembacaan kita suci Al-Quran, ceramah agama seputar perjuangan Imam Husein, pembacaan narasi duka Padang Karbala, pujian-pujian dan doa ziarah kepada cucu Rasulallah SAW itu.

Semoga Asyura selalu terkenang di hati kita semua dengan menjadikan slogan "setiap hari adalah asyura dan setiap tanah adalah karbala" menjadi pedoman hidup kita untuk tegas mengatakan "tidak" kepada kebathilan. 

Selasa, 06 Desember 2011

Pesan Penting di dalam Muharram

Muharram, nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita, tiap setahun sekali sebagai umat muslim kita merayakannya, kita menyambutnya dan kita menghormatinya. Akan tetapi dalam bentuk perayaan tersebut terjadi dalam berbagai macam, selain itu Muharram tidak juga selalu dikenal sebagai bulan yang membahagiakan hanya karena hijrahnya Rasul SAW ke Madinah mendapatkan sambutan yang hangat dan menyenangkan. Pasalnya di bulan Muharram juga dimaknai sebagai bulan kesedihan dan tangisan Nabi dan Ahlulbait-nya, yakni atas Syahidnya cucunda Nabi Al-Imam Husein ibn ‘Ali ibn Abi Thalib. dengan memberikan pembelaan yang tinggi atas agama datuknya Rasulullah Muhammad SAW, yakni Islam.

Tentu saja gerakan pembelaan yang bersifat suci itu hanya diperuntukkan untuk masa depan umat Islam yang akan datang, dimana pada masa itu kedhaliman berubah menjadi keadilan, kemurtadan menjadi keimanan, uang menjadi laksana Tuhan. Oleh karena itu gerakan Imam Husein pada bulan Muharram ini adalah gerakan yang berangkat dari logika, hati nurani, pertanggungjawaban seorang hamba yang teguh keimanannya atas agama Allah, kecintaan pada keadilan, anti terhadap kedhaliman dan motif-motif luhur lainnya.
 
Sehingga sampai-sampai Sang Imam rela syahid dengan keadaan tanpa kepala hanya untuk membangkitkan semangat juang dan kesadaran umat Rasulullah untuk keluar dari koridor kejahiliyahan yang secara tidak langsung terulang lagi pada masa itu. Dengan misi mulianya itu Imam memboyong keluarganya untuk menunjukkan di mata kaum muslimin bahwa “haihât minnâ al-dhillâh/manalah mungkin kami ahlulbait rela tunduk kepada kedhaliman”
 
Dari segala macam bentuk perayaan Muharram, hanya hari Asyura’-lah yang memiliki tempat yang paling tinggi di hati umat muslim. Ada yang berupaya untuk menghidupkan hari Asyura’ dengan cara menyantuni anak yatim, para janda yang kurang mampu dan fakir miskin. Hal ini tentu saja terkait dengan peristiwa syahidnya Imam Husein beserta sahabat-sabahat setianya dan keluarga dekatnya yang mana atas peristiwa ini anak-anak mereka harus menjadi yatim, istri-istri mereka menjadi janda dan ditawan oleh para pasukan Yazid ibn Muawiyah. Walaupun ini sedikit mendistorsi tentang hakikat Asyura’ akan tetapi dapat kita maknai bahwa Asyura’ senantiasa membekas di hati umat muslim yang cinta akan kedamaian meskipun hal itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu.

Ada juga yang melangsungkan prosesi hari Asyura’ dengan cara melantunkan kalimat-kalimat pujian atas syahidnya Imam Husein dan para pendukungnya di medan laga. Maka otomatis menangisi kesyahidan mereka diyakini sebagai upaya penghormatan yang tinggi dan kesedihan yang amat dalam, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam riwayatnya:
 
Dari Ummu Fadhl ibn Harits: ketika Fathimah Al-Zahra baru melahirkan anak keduanya, aku melihat Rasulullah datang dan meletakkan bayi itu ke pangkuannya, ketika aku menoleh kepada beliau, aku melihat kedua mata beliau mencucurkan air mata. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ada apa denganmu?”, beliau menjawab, “Tadi Jibril datang dan memberitakan kepadaku bahwa umatku akan membunuh cucuku ini, dan Jibril memberiku tanah dari tanahnya yang berwarna merah ini”

Muharram, sebagai bulan yang mulia atas segala larangan-Nya untuk berperang justru menjadi sarana pembantaian oleh tentara Yazid ibn Muawiyah. “Umat Muhammad membunuh Muhammad”, inilah pelajaran besar yang dapat kita ketahui dari bulan Muharram.
 
Amar ma’ruf nahi munkar menjadi stimulus utama atas gerakan penentangan kedhaliman yang dilakukan oleh Imam Husein as, perjuangan menjadi senjata utamanya, dan tawakkal kepada Allah menjadi keteguhannya. Muharram mendapati tempat yang utama di hati umat muslim yang mencintai keadilan berkat Imam Husein. Semoga di Bulan Muharram ini kita dapat benar-benar memaknai hakikat Muharram itu sendiri dengan bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang telah menjadikan kita pendukung setia Imam Husein. Atas adanya perjuangan di bulan Muharram yang senantiasa akan terus bersinar di relung dada seorang muslim sejati ini, maka selayaknya dapat kita katakan bahwa “setiap hari adalah Asyura’ dan setiap bumi adalah Karbala’”. 

Mukadimah

Dzikir Sholawat Nariyah/Kamilah/Tafrijiyah Tidak terkait dalam partai-partai politik, dan bukanlah bagian dari organisasi-organisasi islam manapun, serta tidaklah dibawah naungan pesantren & ulama-ulama tertentu.

Ketika cahaya tauhid redup menenggelamkan bumi dalam kegelapan akan meredam umat manusia dalam penderitaan hidup tanpa pegangan, sehingga tiada tersisa orang-orang taat kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka atas kehendak Allah SWT dengan rahmat-Nya, lahirlah di kota Mekah, seorang bayi dari rahim seorang wanita Aminah dari keluarga sederhana. Bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia, adalah anak yatim, bapaknya bernama Abdullah wafat 7 bulan sebelum Dia lahir. Di tempat suci di kaki Ka’bah, bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

Allah SWT berSholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Sholawat Allah adalah Rahmat bagi Nabi Muhammad SAW. Sholawat yang disanjungkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah suatu bentuk penghormatan dan pengakuan akan kemuliaan beliau dari Allah SWT sebagai manusia, Nabi dan Rasul pilihan yang terus-menerus dan diRahmati oleh Allah SWT. Sholawat Malaikat berarti berIstighfar (memohon ampun) untuk Nabi Muhammad SAW. Dan Allah SWT memerintahkan kepada kita sebagai orang-orang yang beriman untuk berSholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Allah SWT berfirman : 

“ Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikatNya bersSholawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, berSholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (QS. Al-Ahzab:56).

Selain sebagai perintah Allah SWT, Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW memiliki keutamaan bagi kita diantaranya dapat menjadi penawar hati yang retak, penyejuk kalbu yang gundah, pelebur dosa dan kesalahan, pembuka pintu mengenal Allah (Ma’rifatullah), penyelamat dari musuh dan musibah, penyembuh dari berbagai penyakit jasmani dan rohani dan lain sebagainya. Rosulallah bersabda :

“ Barang siapa berSholawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalas Sholawat (memberi Rahmat) sepuluh kali.”

Dengan sudut pandang yang terus dibina, kembali akan dipaparkan betapa luar biasanya Nabi Muhammad sebagai Rosul terakhir memberikan tauladan yang tak tercela sebagai manusia biasa Kekasih Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW telah lama tiada, meninggalkan seluruh ummatnya. Tak ada harta benda yang diwariskan untuk anak istrinya, namun beliau meninggalkan dua buah pusaka, yang diwariskannya kepada semua ummat diseluruh penjuru dunia. Sebagaimana sabdanya.

“Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), tak akan kamu tersesat selama-lamanya, selama kamu berpegang kepada keduanya. Yakni Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya”.

Situasi kondisi kehidupan generasi saat ini ‘sakit’ serta telah terjadi pergeseran moral dari berbagai lini dan sudah saatnya dikembalikan kepada kesadaran nilai luhur Tauhid. Sehingga kami tergerak, melalui kegiatan Dzikir Sholawat Naariyah ini besar harapan kami agar generasi muda lebih menyadari arti Ahlak & Aqidah secara Islam, bukan sekedar etika pergaulan belaka, melainkan proses menuju esensi beragama… yakni muslim sejati.

Dalam kegiatan Dzikir Sholawat Nariyah kami bertujuan agar generasi muda akan lebih mengenal dan mencintai Nabi Muhammad SAW, tanpa memandang latar belakang dan status sosial seseorang. Dengan kegiatan Dzikir Sholawat Naariyah ini kami pun lebih mengenalkan pejuang-pejuang agama terdahulu. Berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist dan mengharap Perlindungan dari Allah SWT serta Syafaat Rosulallah SAW semata.

Panduan serta tata cara kegiatan Dzikir Sholawat Nariyah adalah hasil dari penulisan Ulama yang namanya tidak ingin disebutkan dan memberikan amanat pada kami untuk mendawamkannya tanpa memandang latar belakang seseorang sesuai dengan ajaran dan Perintah agama. Menurut dengan pandangan beliau bahwa pengetahuan dan menjalankan ibadah beragama bukanlah dominasi suatu kalangan masyarakat tertentu, melainkan diwariskan oleh Rosulallah untuk seluruh UmmatNya. Karena Islam adalah Hidayah terbesar dari Allah, jadi siapapun mempunyai hak untuk menjalankannya.
Waktu sholat untuk Jakarta, Indonesia. Widget Jadwal Sholat oleh Alhabib.
free web site traffic and promotion

Arsip Blog

Bismillah

Jumat, 09 November 2012

Kamis, 14 Juni 2012

Isra Mi'raj
Pada akhir bulan Rajab , ummat muslim selalu diingatkan akan sebuah kejadian maha penting yang pernah terjadi dalam sirah Nabi besar ...

Rabu, 06 Juni 2012

Karbala, Bumi Penaklukan Darah atas Pedang
Karbala. Itulah nama hamparan sahara yang menjadi panggung drama nyata yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Ras...

Jumat, 27 Januari 2012

Kematian, Akhir atau Awal Kehidupan
Kami sering berbicara dengan sahabat dan kerabat tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu persatu. Sifat kematian yang ti...

Rabu, 07 Desember 2011

Dunia Peringati Asyura
Jutaan Muslim seluruh dunia memperingati hari berkabung atas pembantaian cucu Rasulallah SAW, Imam Husein di Padang Karbala. Asyura adalah ...

Selasa, 06 Desember 2011

Pesan Penting di dalam Muharram
Muharram, nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita, tiap setahun sekali sebagai umat muslim kita merayakannya, kita menyambutnya dan...
Mukadimah
Dzikir Sholawat Nariyah/Kamilah/Tafrijiyah Tidak terkait dalam partai-partai politik, dan bukanlah bagian dari organisasi-organisasi...

 
Admin | Dzikir Sholawat Nariyah
Aku Cinta Sholawat